- Bupati dan Wabup Selayar Angkat Warisan Bahari dan Potensi Pangan di Kirab HUT ke-357 Sulsel
- Nasi Goreng Sayang Istri, Aksi Bupati Selayar Warnai Keseruan HUT ke-357 Sulsel
- Wabup Muhtar Presentasikan Kelapa sebagai Produk Unggulan Selayar dalam Pertemuan OVOP Sulsel
- Bupati dan Wabup Selayar Promosikan Produk UMKM di Sulsel Expo dan Culinary 2026
- Lima Peserta Lolos Administrasi Seleksi Direksi dan Komisaris Bumi Maritim Tanadoang
- Wabup Selayar Perkuat Sinergi Pengendalian Inflasi di Forum TPID Sulsel Zona V Bulukumba
- Usulan Dikabulkan! Pos SAR Selayar dan Bone Kompak Naik Kelas
- Perkuat Pembangunan Berbasis Data, Wabup Selayar Temui Kepala BPS Sulsel
- Wabup Muhtar Pimpin Rapat, Persiapan Selayar Meriahkan HUT Sulsel ke-357
- Dari Expo UMKM hingga Anti Mager, Bupati Selayar Aktif dalam Rangkaian Harkopnas 79
Wabup Selayar Buka Diseminasi BI Sulsel Terkait pengembangan Model Bisnis Rumput Laut
.jpeg)
KEPULAUAN SELAYAR – Diseminasi oleh Kantor Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Sulawesi Selatan (BI Sulsel) terkait hasil penelitian bersama (joint research) tentang pengembangan model bisnis rumput laut untuk mendorong nilai tambah komoditas ekspor utama, dibuka oleh Wakil Bupati Kepulauan Selayar Saiful Arif, di Ruang Pola Kantor Bupati, Rabu (14/6/2023) siang.
Diseminasi ini dihadiri oleh Deputi Kepala Perwakilan BI Sulsel, M. Firdaus Muttaqin, bersama para narasumber peneliti Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN).
Sementara peserta diseminasi, selain menghadirkan sejumlah kepala OPD terkait, juga menghadirkan sejumlah penyuluh pertanian, Bumdes, pembudidaya komoditas rumput laut, lembaga pendidikan, media massa, serta lembaga perbankan dan koperasi.
Baca Lainnya :
- Wakil Bupati Kepulauan Selayar Hadiri Acara Peresmian Balai Diklat Pemeriksaan Keuangan Negara0
- Selayar Tourism Investment Forum 2017, Bupati dan GIPI Teken MOU Kepariwisataan0
- Bupati Selayar Buka Konferensi Kerja PGRI IV Tk. Kabupaten Kepulauan Selayar0
- Asisten Ekbang & Kesra Selayar: "Sub Penyalur BBM bersubsidi diharapkan bantu pemda"0
- Rapat Bersama IPSI Sulsel, Selayar Makin Siap Jadi Tuan Rumah Praporda 0
Wakil Bupati Kepulauan Selayar Saiful Arif mengatakan, meskipun rumput laut memiliki nilai jual ekspor, namun pengembangan rumpu laut di Selayar memiliki tantangan tersendiri. Menurutnya, pembudidaya rumput laut di Selayar pada umumnya hanya sebatas pembibitan dan pemeliharaan kemudian dijual dalam bentuk rumput laut basah dan kering, sementara untuk pengolahan rumput laut basah sangat terbatas pemanfaatannya.
Dikemukakan jauhnya akses lokasi pemasaran hasil budidaya keluar Selayar, merupakan salah satu faktor terbatasnya kegiatan usaha berlanjut. Saiful Arif menegaskan bahwa hal tersebut bisa menjadi bahan diskusi dalam diseminasi tersebut untuk sebuah solusi yang harus ditempuh.
Kendati demikian praktek budidaya rumput laut di Selayar sudah dilakukan sejak Tahun 2004.
"Jauhnya jarak untuk memperoleh bibit yang berkualitas menjadi tantangan tersendiri bagi para pembudidaya rumput laut di Kabupaten Kepulauan Selayar. Belum lagi ditambah cuaca buruk, dan iklim yang tiba-tiba berubah sehingga menyebabkan tanaman rumput laut mengalami kerusakan hingga gagal panen. Ini adalah tantangan yang kami hadapi di Selayar," pungkasnya.
Sementara Deputi Kepala Perwakilan BI Sulsel, M. Firdaus Muttaqin dalam materinya memaparkan kondisi perekonomian makro Sulsel dan Kabupaten Kepulauan Selayar.
Terkait dengan hasil kajian yang didiseminasikan, Firdaus mengatakan terdapat beberapa hal melatarbelakangi penyusunan kajian tersebut. Salah satunya, meskipun Sulawesi Selatan merupakan produsen terbesar rumput laut di Indonesia, namun daya saing rumput laut Sulawesi Selatan masih berada di bawah beberapa provinsi lainnya, seperti Nusa Tenggara Timur, Maluku, Maluku Utara, Kalimantan Utara, dan Sulawesi Tengah. Dibandingkan provinsi-provinsi tersebut, produksi rumput laut Sulsel belum cukup menjadi unggulan diantara komoditas lainnya, meskipun sudah memasok ke wilayah lain bahkan ke luar negeri.
Lanjut Firdaus, sebelum 2017, produksi rumput laut di Kab. Kepulauan Selayar pernah berjaya, namun perubahan iklim, menurunnya kualitas lingkungan, serta motivasi pembudidaya yang menurun membuat berkurangnya produksi rumput laut.
"Pada tahun 2022 tercatat produksi rumput laut di 642 ton atau 0,02% dari produksi Sulsel," ungkapnya.
Dalam diskusi dan tanya jawab, beberapa rekomendasi pengembangan model bisnis rumput laut dipaparkan oleh narasumber peneliti BRIN antara lain, mendorong
penerapan model investasi rumput laut berbasis masyarakat sebagai usaha bersama dalam peningkatan produktivitas yang saat ini masih belum optimal.
Lebih lanjut, permasalahan terkait perubahan iklim, maupun kualitas lingkungan yang menurun dapat diatasi melalui pembuatan laboratorium penghasil varietas baru rumput laut yang tahan terhadap kondisi lingkungan di Selayar.
Para narasumber juga mengemukakan, dalam mendorong kembalinya keberminatan pembudidaya, tentunya kerja sama dengan koperasi dalam pembinaan maupun peningkatan aspek manajerial dapat menjadi salah satu solusi.
Ke depan, Bank Indonesia akan terus memberikan support bagi pengembangan model bisnis rumput laut di Kabupaten Kepulauan Selayar, baik melalui fasilitasi korporatisasi petani dan kemitraan petani dengan perusahaan skala sedang dan besar serta kerjasama pelatihan pembudidaya. (Humas Diskominfo SP/Tim)











.jpeg)