- Hari Pertama Penuh Kesan, 112 Siswa Baru Disambut Bak Keluarga di UPT SDN Benteng Selatan No.1 Kep. Selayar
- Nasi Santan Jadi Andalan TP PKK Selayar di Festival Kuliner Nasional HKG PKK ke-54
- UMKM Selayar Tampil Memikat di Pameran HKG PKK ke-54 Tingkat Nasional
- Puncak Peringatan HKG PKK ke-54, Hj. Tri Yanti Perkuat Semangat Pengabdian Kader PKK Selayar
- Yanti Rahmawati Ketua TP PKK Selayar Gaungkan Budaya Hidup Sehat Lewat Jalan Sehat Anti Mager
- BKPSDM Selayar dan UNHAS Perkenalkan Program Pascasarjana bagi ASN
- Bupati Selayar Terima Hasil Pembangunan Jaringan Irigasi Air Tanah dari Kementerian PU
- Keluhan Petani Arang Terjawab, Pemkab Selayar dan ASDP Sepakati Skema Khusus Pemuatan di Pamatata
- Ketua dan Jajaran TP PKK Selayar Hadiri Pembukaan Pameran UMKM, Cek Kesehatan Gratis, dan Pencanangan Rekor MURI MMS
- Sukseskan Rekor MURI, TP PKK Selayar Libatkan 585 Ibu Hamil dalam Gerakan Minum MMS
Hadiri Sidang ke-31 ICC-MAB Unesco di Paris, Berikut Penjelasan Bupati Kepulauan Selayar

SELAYAR - Bupati Kepulauan Selayar H. Muh. Basli Ali didampingi oleh Sekda Kepulauan Selayar Dr. Ir. H. Marjani Sultan, M.Si., dan Kepala Balai Taman Nasional Takabonerate Faat Rudhianto menghadiri pertemuan the 31st session of the international coordination council (ICC) of the Man and the biosphere (MAB) programme di Perancis. Pertemuan tahunan organisasi UNESCO itu berlangsung di dari Tanggal 17 hingga 21 Juni 2019, membahas pembangunan dan pengembangan cagar biosfer sebagai pemulihan ekosistem.
Diketahui Kawasan Taman Nasional Taka Bonerate sebagai zona inti dalam wilayah strategis Kabupaten Kepulauan Selayar Sulawesi Selatan, tercatat sebagai Cagar Biosfer ke-10 di Indonesia terhitung mulai bulan juni tahun 2015, dan terdaftar di PBB melalui kerjasama program MAB-UNESCO (Man and The Biosphere Programme – United Nations Education Social and Cultural Organization) sebagai wilayah yang mempunyai keunikan sumber daya alam hayati.
Bupati Kepulauan Selayar H. Muh. Muh. Basli Ali melalui pesan WhatsApp Jumat (21/6/2019) mengatakan keberadaan cagar biosfer sangat bermanfaat untuk pengembangan ekonomi berkelanjutan, mempertahankan nilai sosial budaya dan citra pemerintah. Sementara bagi sektor swasta, cagar biosfer akan memberikan nilai berupa penyediaan komoditas.
Baca Lainnya :
“Saya mengapresiasi dengan ditetapkannya Taman Nasional Takabonerate sebagai cagar biosfer dunia pada tahun 2015 lalu, dan saya berharap bias memberikan manfaat, utamanya bagi masyarakat yang berada di kawasan cagar biosfer Taman nasional Takabonerate,” kata Basli Ali.
Basli Ali juga menegaskan pentingnya dukungan dan masukan dari berbagai pihak untuk memaksimalkan tata kelola cagar biosfer Taman Nasional Takabonerate nantinya.
Baca juga : Tim Survei Temukan 90 Penjual BBM Ilegal di Kota Benteng Selayar, Ini Tindakan yang Dilakukan Pemda
“Dukungan dari para pemangku kepentingan yang beragam, tentunya akan menjadi modal berharga dalam mengembangkan dan mencapai makna penting dari keberadaan cagar biosfer ini,” terangnya.
Sementara itu Sekda Kepulauan Selayar Dr. Ir. H. Marjani Sultan M.Si yang mendampingi Bupati Kepulauan Selayar, menyampaikan bahwa cagar biosfer, bisa menjadi muara kegiatan konservasi, pembangunan ekonomi berkelanjutan dan pasokan kebutuhan logistik (Riset, Monev, Pendidikan dan SDM). Menurutnya cagar biosfer juga merupakan laboratorium alam bagi pembangunan berkelanjutan.
Memiliki cagar biosfer juga memberikan akses bagi tampilnya nama Kabupaten Kepulauan Selayar di forum Internasional. Menurutnya, cagar biosfer juga bermanfaat untuk sejumlah kebutuhan. Misalnya, bagi masyarakat di sekitarnya, bisa menggerakkan aktivitas jasa ekosistem, kegiatan produksi dan kelestarian budaya.
Selain itu, juga memiliki manfaat sebagai kawasan konservasi yang akan mendukung kelestarian sumber daya alam hayati dan ekosistem. Cagar biosfer juga akan bermanfaat sebagai pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi, khususnya sebagai laboratorium alam.
Dalam siding ke-31 ICC-MAB itu, Unesco juga menetapkan dua cagar biosfer baru Indonesia sebagai cagar biosfer ke-15 dan ke-16 di Indonesia. Masing-masing adalah cagar biosfer Togean Tojo Una-Una Sulawesi tengah, dan cagar biosfer Sale-Moyo-Tambora (Samota) di Nusa Tenggara Barat (NTB).
Atas penetapan tersebut, Indonesia kini telah memiliki 16 cagar biosfer, masing-masing adalah Taman Nasional Gunung Leuser di Provinsi Aceh dan Sumatera Utara, Cagar Biosfer Siberut di Kepulauan Mentawai, Sumatera Barat, Lore Lindu di Sulawesi Tengah, Pulau Komodo di Labuang Bajo NTT, Cagar Biosfer Cibodas di Jawa Barat, Cagar Biosfer Tanjung Puting di Provinsi Kalimantan Tengah, Giam Siak Kecil-Bukit Batu di Sumatera, Wakatobi di Sulawesi Tenggara, Gunung Bromo-Semeru-Tengger-Arjuno, Taman Nasional Takabonerate di Kepulauan Selayar Sulsel, Berbak Sembilang di Sumatera, Betung Kerihun Danau Sentarum Kapuas Hulu di Kalimantan Barat, Rinjani Lombok, cagar biosfer Togean Tojo Una-Una Sulawesi tengah, dan cagar biosfer Sale-Moyo-Tambora (Samota) di Nusa Tenggara Barat. (HUMAS / IM)










.jpeg)